Berfikir ketika dunia ini dg segala isinya akan lenyap begitu saja dengan hanya adanya kiamat, Kemanakah kita? Ke padang makhsyar, dihisab, melewati jembatan syirotul mustaqim. Yang ahli surga masuk surga dan yang ahli neraka masuk neraka?!! Apakah sesederhana itu? Terus mereka kekal selamanya tidak lagi memikirkan tentang dunia yg dulu pernah mereka huni.
Pernahkah kita merenungi proses dari semua itu??
Jika direnungi Umur manusia rata2 60 th, belum dipotong dengan waktu tidur, jikalah semua berumur 1000th tidak akan bisa menandingi 1 hari di akherat. Sesingkat itukah?! Mungkin jika diibaratkan seperti lepasnya panah dari busurnya singkat sekali. Dan itu semua akan kita tebus dengan kekalnya hidup di akherat, mempertanggungjawabkan kilatnya waktu panah yg kita lepas...
Sungguh waktu yang sangat-sangat singkat dengan timbal balik dari konsekuensi yang akan kita dapat di akherat, beruntunglah bagi yang bisa memanfaatkan dan merugilah orang yg berleha-leha lupa akan akherat. Kita perlu terus menerus mengingat akherat karena itulah tujuan hidup kita di dunia. Adakah orang keluar dengan tujuan mau ke Jakarta terus di tengah jalan lupa akan tujuannya?? Namun kebanyakan dari kita lupa akan tujuan kita di dunia.
Ibnu Jauzi mengatakan "cobalah kalian pergi ke pasar kemudian duduklah di tengah kuburan" begitulah pasar dengan segala keramaian, orang seakan lupa disibukkan dengan dunia namun bagaimanapun kuburan akhir dari segalanya..
Yaa Alloh.... pernahkah kita bayangkan, tabrakan, ditabrak dari depan, sebelah kanan, jatuh kepala kebentur aspal dan tak ingat lagi bangun-bangun kepala pusing luka di mana-mana jalan sempoyongan, semua bilang "alhamdulillah masih selamat". Tak lama setelah pulang kita akan sadar dan bersyukur, bangun masih hidup. Bisa dibayangkan jika bangun dan melihat jasad sendiri ditangisi, tak tahu apa yang terjadi tak lama dimandikan, dikafani terus dikubur dalam ruangan dalam tanah yang gelap dan sempit. Apakah yang akan kita lakukan?? taubat pun sudah ditutup.
Cukupkah amal kita tuk menghadapNYA..?? dan menanggung konsekuensi apa yang telah kita lakukan selama hidup dengan kekalnya kehidupan akherat, bagaimana rupa kita ketika dibangkitkan dari kubur, bagaimana dipadang makhsyar? Akankah kita dapat syafa'at? Timbangan amal, kita terima kanan ato kiri? Di syirot nanti luluskah atau kita jatuh?
Masukkah kita ke surga atau mungkin ke neraka??..
oooohh "yaa laitani kuntu turoba"
(Duh, alangkah beruntungnya seandainya dulu aku diciptakan Allah menjadi hanya seberkas debu saja. Pasti beratnya penderitaan ini tidak bakalan menimpaku)
اللّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
Yaa Alloh, aku memohon kepadaMu surga dan aku berlindung kepadaMu dari siksa api neraka
by Ust. Usamah, Mekkah Al mukarromah
Tampilkan postingan dengan label kalam sufi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kalam sufi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 28 Mei 2010
Rabu, 26 Mei 2010
Soidul khootir 'Amal
Jika terbesit oleh kalian melakukan hal kebaikan maka lakukanlah segera karena itu bisikan malaikat, sebelum datang bisikan syaitan. Dalam diri manusia diutus malaikat dan syaitan, keduanya akan saling bertentangan jika dia dalam kebaikan maka malaikatlah yg ada pada dirinya dan begitu jg sebaliknya. Jika kita dalam kebaikan dianjurkan doa "tsabbit qolbi ala dinik wa toatik"
Karena Syaitan bisa membolak balikkan hati seseorang 40x dalam sehari. Kesegeraan itu sangat mahal hitungannya dalam amal ibadah, kita tahu ganjaran yg dberikan jika shalat di awal waktu datang ke masjid, jumatan, majlis ilmi dan seterusnya.
Benar kejahatan itu bukan sekedar ada niat dari pelakunya tapi karena adanya kesempatan. Begitu juga kebaikan, tapi jikalah kesempatan ada tapi tidak dibarengi niat maka tidak akan terlaksana, kita niat akan berbuat baik tanpa melaksanakan sudah diberi pahala kebaikan yang sempurna. "niat lebih baek dari amal" karena niat adalah amal yg timbul dari hati sedang perbuatan timbul dari amal jawarih yang belum tentu dibarengi dengan niat, nah kaitannya adalah dengan hadits bahwa semua amal tergantung niat, jika diniati baek maka baek dan juga sebaliknya.
Pertanyaan yang akan timbul, apakah perbuatan jelek yang diniati baek akan jadi baek dan perbuatan baek yang diniati jelek akan jelek..???
Jika kembali kepada makna hadits, maka yang terjadi adalah seperti di atas baek dan jeleknya tergantung niat, meskipun amal dan niat berbeda, setidaknya jelek dalam pandangan kita, bukan berarti melakukan kejahatan untuk kebaekan, qoidahnya adalah tidak mungkin bersesuci dengan air najis.
Terkadang kita bingung dan bertanya apakah amal yg kita lakukan baek ato jelek..?? Dulu shohabat juga bertanya serupa pada Rosululloh, sabda Rosululloh "tanyalah pada hatimu perbuatan baek itu akan menenangkan hatimu dan perbuatan jelek itu akan membuat hatimu gundah"
Namun begitu, kita tidak bisa menghukumi perbuatan seseorang itu baek apa tidak jika kembali pada pembahasan tentang niat di atas. Jika tidak benar-benar yakin bahwa perbuatan itu sesuai dengan niat hatinya. Ingat, kadang maksiat itu lebih baek dari pada toat dan ukurannya kembali pada niat
Hati tidak seorang pun tahu kecuali dia dan Alloh. Muamalah hati adalah suatu yang sangat fital dalam diri manusia karena hati mewakili semua anggota badan jika hati baek maka semua anggota badan baek, begitu juga jika jelek maka semua anggota badan jg jelek.
Muamalah dibagi 2, mahdoh dan ghoiru mahdoh. Muamalah dengan sang Pencipta dan sesama makhluk keduanya sangat berkaitan namun ada batasan yg tidak bisa dsatukan misalnya jika kita salah dalam bermuamalah dengan makhluk maka pertanggungjawabannya pada sesama makhluk itu sendiri, tidak bisa melalui sang pencipta.
Namun dalam bermuamalah dengan Alloh kadang kita butuh pada makhluk untuk bisa sampai padaNYA yang disebut dengan istilah tawassul, meskipun ada sebagian yg menolak tawassul bahkan mengharamkan, dan bagi yang melakukan dikatakan syirik, tapi pertanyaannya bukankah kita dalam beribadah masih membutuhkan perantara (tawassul) badan yang juga makhluk karena hakekat dalam beribadah dan muamalah dg Alloh adalah hati atau ruuh. dengan urutan: yg menggerakkan badan adalah hati, yg menggerakkan hati adalah ruuh. Apalah artinya jasat/anggota badan jika sudah ditinggal pergi oleh ruuh, setidaknya jika sudah meninggalkan jasat ruuh akan bebas tidak terikat dg jasat dan hubungan dg Alloh akan lebih dekat meskipun tidak bisa lagi beramal untuk dirinya sendiri, tapi masih bisa tuk kita jadikan perantara wusul kita pada Alloh dan inilah yang kita yakini ketika kita bertawassul lebih2 tawassul kita melalui makhluk yg paling mulya Nabi Muhammad SAW. kita tidak minta kepada nabi namun minta didoakan disisi Alloh. Jika sang kekasih minta pada kekasihnya akankah itu dtolak ?? Meskipun dia minta atas permintaan orang lain yg dititipkan kepadanya..
by Ust Usamah, Makkah al Mukarromah
Karena Syaitan bisa membolak balikkan hati seseorang 40x dalam sehari. Kesegeraan itu sangat mahal hitungannya dalam amal ibadah, kita tahu ganjaran yg dberikan jika shalat di awal waktu datang ke masjid, jumatan, majlis ilmi dan seterusnya.
Benar kejahatan itu bukan sekedar ada niat dari pelakunya tapi karena adanya kesempatan. Begitu juga kebaikan, tapi jikalah kesempatan ada tapi tidak dibarengi niat maka tidak akan terlaksana, kita niat akan berbuat baik tanpa melaksanakan sudah diberi pahala kebaikan yang sempurna. "niat lebih baek dari amal" karena niat adalah amal yg timbul dari hati sedang perbuatan timbul dari amal jawarih yang belum tentu dibarengi dengan niat, nah kaitannya adalah dengan hadits bahwa semua amal tergantung niat, jika diniati baek maka baek dan juga sebaliknya.
Pertanyaan yang akan timbul, apakah perbuatan jelek yang diniati baek akan jadi baek dan perbuatan baek yang diniati jelek akan jelek..???
Jika kembali kepada makna hadits, maka yang terjadi adalah seperti di atas baek dan jeleknya tergantung niat, meskipun amal dan niat berbeda, setidaknya jelek dalam pandangan kita, bukan berarti melakukan kejahatan untuk kebaekan, qoidahnya adalah tidak mungkin bersesuci dengan air najis.
Terkadang kita bingung dan bertanya apakah amal yg kita lakukan baek ato jelek..?? Dulu shohabat juga bertanya serupa pada Rosululloh, sabda Rosululloh "tanyalah pada hatimu perbuatan baek itu akan menenangkan hatimu dan perbuatan jelek itu akan membuat hatimu gundah"
Namun begitu, kita tidak bisa menghukumi perbuatan seseorang itu baek apa tidak jika kembali pada pembahasan tentang niat di atas. Jika tidak benar-benar yakin bahwa perbuatan itu sesuai dengan niat hatinya. Ingat, kadang maksiat itu lebih baek dari pada toat dan ukurannya kembali pada niat
Hati tidak seorang pun tahu kecuali dia dan Alloh. Muamalah hati adalah suatu yang sangat fital dalam diri manusia karena hati mewakili semua anggota badan jika hati baek maka semua anggota badan baek, begitu juga jika jelek maka semua anggota badan jg jelek.
Muamalah dibagi 2, mahdoh dan ghoiru mahdoh. Muamalah dengan sang Pencipta dan sesama makhluk keduanya sangat berkaitan namun ada batasan yg tidak bisa dsatukan misalnya jika kita salah dalam bermuamalah dengan makhluk maka pertanggungjawabannya pada sesama makhluk itu sendiri, tidak bisa melalui sang pencipta.
Namun dalam bermuamalah dengan Alloh kadang kita butuh pada makhluk untuk bisa sampai padaNYA yang disebut dengan istilah tawassul, meskipun ada sebagian yg menolak tawassul bahkan mengharamkan, dan bagi yang melakukan dikatakan syirik, tapi pertanyaannya bukankah kita dalam beribadah masih membutuhkan perantara (tawassul) badan yang juga makhluk karena hakekat dalam beribadah dan muamalah dg Alloh adalah hati atau ruuh. dengan urutan: yg menggerakkan badan adalah hati, yg menggerakkan hati adalah ruuh. Apalah artinya jasat/anggota badan jika sudah ditinggal pergi oleh ruuh, setidaknya jika sudah meninggalkan jasat ruuh akan bebas tidak terikat dg jasat dan hubungan dg Alloh akan lebih dekat meskipun tidak bisa lagi beramal untuk dirinya sendiri, tapi masih bisa tuk kita jadikan perantara wusul kita pada Alloh dan inilah yang kita yakini ketika kita bertawassul lebih2 tawassul kita melalui makhluk yg paling mulya Nabi Muhammad SAW. kita tidak minta kepada nabi namun minta didoakan disisi Alloh. Jika sang kekasih minta pada kekasihnya akankah itu dtolak ?? Meskipun dia minta atas permintaan orang lain yg dititipkan kepadanya..
by Ust Usamah, Makkah al Mukarromah
Selasa, 25 Mei 2010
Dalam atsar sebagian sahabat berkata, “Sungguh nafsu terkadang menghadap dan berpaling. Maka gunakan kesempatan saat ia sedang menghadap. Dan tinggalkanlah ia saat sedang berpaling. Sungguh Alloh mencela ahli kitab dengan firman-Nya, “…dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhoan Alloh, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya…” QS. Al Hadid: 27
Seorang muslim yang terbina juga harus menjauh dari pergaulan yang tidak berguna dengan sesama manusia karena hal itu menyibukkan hati dan menyia-nyiakan waktu sehingga melalaikan hal-hal yang semestinya lebih penting. Akan lebih baik jika seorang muslim terbina menjadikan bergaul dengan manusia seperti layaknya kebutuhan makan siang dan makan malam. Artinya bergaul dengan manusia cukup dilakukan sekedar kebutuhan. Hal ini tentu saja akan lebih mengenakkan tubuh dan hati.
Barangsiapa mengerti kadar kecukupan dirinya terkait penghidupan dan penjagaan agamanya maka lebih utama baginya mengambil sekedar kebutuhan akan pergaulan dengan tetap memelihara iltizamat individu dan jamaah serta hak-hak kaum muslimin seperti mengucap dan menjawab salam, menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, mengajarkan kepada mereka apa yang mereka butuhkan dan memberikan manfaat kepada mereka sesuatu yang diharapkan bisa menjadikan mereka semakin baik dan lain-lain. Alloh berfirman, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya.” QS. Al Isro: 84.
Seorang muslim yang terbina juga harus menjauh dari pergaulan yang tidak berguna dengan sesama manusia karena hal itu menyibukkan hati dan menyia-nyiakan waktu sehingga melalaikan hal-hal yang semestinya lebih penting. Akan lebih baik jika seorang muslim terbina menjadikan bergaul dengan manusia seperti layaknya kebutuhan makan siang dan makan malam. Artinya bergaul dengan manusia cukup dilakukan sekedar kebutuhan. Hal ini tentu saja akan lebih mengenakkan tubuh dan hati.
Barangsiapa mengerti kadar kecukupan dirinya terkait penghidupan dan penjagaan agamanya maka lebih utama baginya mengambil sekedar kebutuhan akan pergaulan dengan tetap memelihara iltizamat individu dan jamaah serta hak-hak kaum muslimin seperti mengucap dan menjawab salam, menjenguk orang sakit, menghadiri jenazah, mengajarkan kepada mereka apa yang mereka butuhkan dan memberikan manfaat kepada mereka sesuatu yang diharapkan bisa menjadikan mereka semakin baik dan lain-lain. Alloh berfirman, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya.” QS. Al Isro: 84.
Senin, 24 Mei 2010
Poligami
"Dan jika km khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap(hak_hak)perempuan yatim(bila mana km menikahinya)maka nikahilah perempuan (lain) yg kamu senangi dua,tiga,atau empat.tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil maka (nikahilah)seorang saja,atau hamba sahaya yg kamu miliki.yg demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat dzolim".(An-Nisa’ :3)
Barang kali orang bertanya "apa hubungannya anak perempuan yatim dengan masalah poligami ?".dan untk menjawab ini saya(mufassir)katakan "memang sebelumnya sohabat jg bngung dalam memahami ayat tersebut hingga urwah bin zubair bertanya kepada bibinya yaitu sayyidah aisyah dan dari segi keterkaitannya dg masalah poligami. Sayyidah Aisyah menjawab "wahai keponakan ku,adanya anak yatimah ini dalam asuhan walinya dan walinya ini mengerja samakan hartanya dg harta si yatimah dan (setelah dewasa)walinya ini mengagumi kecantikan dan kekayaan si yatimah,dan menginginkan kawin dengannya didasari kecantikan dan hartanya, akan tetapi dia tidak bersikap adil kepadanya dalam persoalan mahar tidak memberikan mahar sesuai dg apa yg ia berikan kpd wanita lain dg alasan bhwa yatimah ini berada dalam asuhan dia.maka dari itu Allah melarang (kpd wali) untk menikahinya sehingga wali itu membyar maharnya secara adil dan sempurna.dan memerintahkan agar dia mengawini wanita selain mereka(yatimah) sesuai dg ayat (nikahilah perempuan-lain-yg km senangi...)".
Seakan ayat it mengatakan "jika tidak bisa berlaku adil ke yatimah maka tinggalkan mereka dan kawinilah perempuan lain Yg kamu sukai dua,tiga,dan empat, dan jika kamu tidak bisa berlaku adil diantara istri2mu makakamu harus merasa cukup dg satu istri..dan itu lebih menjamin tidak adanya ketidak adilan dan ke dzoliman
Dalam ayat ini tidak boleh tidak, kami akan membahas masalah poligami,dimana menurut sebagian orang barat dianggap sebagai sebuah kekurangan dan suatu kejelekan dalam hukum Islam.
Untk menjawab pernyataan ini kami katakan : bhwa masalah poligami adalah suatu keharusan yg dituntut oleh sebuah realita kehidupan, dan sebuah terapi sebagian keadaan yg mendesak dalam kehidupan sosial, bhkan merupakan sebuah kebanggaan dari sekian kebanggaan yg dimiliki oleh Islam,karena mampu berjalan dengan eksis,dan mampu mengatasi permasalahan dalam kehidupan sosial yg sangat sulit, yg masyarakat dan umat sendiri tidak mempunyai jalan keluar (dalam masalah itu)
Sesungguhnya ijtima' dalam kemasyarakatan seumpama timbangan yg diantara dua sisinya harus seimbang
Maka apa yang akan kita lakukan jika timbangan tersebut diantara dua sisinya tidak seimbang..?
Dan jumlah perempuan berlipat dari jumlah laki-laki..tidakkah keadaan ini suatu celah/kekurangan dalam kehidupan sosial..? Dan untk menutupinya dan untk menyeimbangkan timbangan kita harus menuruti kepada syari'at yg bijaksana ini
by. Ust Usamah
Barang kali orang bertanya "apa hubungannya anak perempuan yatim dengan masalah poligami ?".dan untk menjawab ini saya(mufassir)katakan "memang sebelumnya sohabat jg bngung dalam memahami ayat tersebut hingga urwah bin zubair bertanya kepada bibinya yaitu sayyidah aisyah dan dari segi keterkaitannya dg masalah poligami. Sayyidah Aisyah menjawab "wahai keponakan ku,adanya anak yatimah ini dalam asuhan walinya dan walinya ini mengerja samakan hartanya dg harta si yatimah dan (setelah dewasa)walinya ini mengagumi kecantikan dan kekayaan si yatimah,dan menginginkan kawin dengannya didasari kecantikan dan hartanya, akan tetapi dia tidak bersikap adil kepadanya dalam persoalan mahar tidak memberikan mahar sesuai dg apa yg ia berikan kpd wanita lain dg alasan bhwa yatimah ini berada dalam asuhan dia.maka dari itu Allah melarang (kpd wali) untk menikahinya sehingga wali itu membyar maharnya secara adil dan sempurna.dan memerintahkan agar dia mengawini wanita selain mereka(yatimah) sesuai dg ayat (nikahilah perempuan-lain-yg km senangi...)".
Seakan ayat it mengatakan "jika tidak bisa berlaku adil ke yatimah maka tinggalkan mereka dan kawinilah perempuan lain Yg kamu sukai dua,tiga,dan empat, dan jika kamu tidak bisa berlaku adil diantara istri2mu makakamu harus merasa cukup dg satu istri..dan itu lebih menjamin tidak adanya ketidak adilan dan ke dzoliman
Dalam ayat ini tidak boleh tidak, kami akan membahas masalah poligami,dimana menurut sebagian orang barat dianggap sebagai sebuah kekurangan dan suatu kejelekan dalam hukum Islam.
Untk menjawab pernyataan ini kami katakan : bhwa masalah poligami adalah suatu keharusan yg dituntut oleh sebuah realita kehidupan, dan sebuah terapi sebagian keadaan yg mendesak dalam kehidupan sosial, bhkan merupakan sebuah kebanggaan dari sekian kebanggaan yg dimiliki oleh Islam,karena mampu berjalan dengan eksis,dan mampu mengatasi permasalahan dalam kehidupan sosial yg sangat sulit, yg masyarakat dan umat sendiri tidak mempunyai jalan keluar (dalam masalah itu)
Sesungguhnya ijtima' dalam kemasyarakatan seumpama timbangan yg diantara dua sisinya harus seimbang
Maka apa yang akan kita lakukan jika timbangan tersebut diantara dua sisinya tidak seimbang..?
Dan jumlah perempuan berlipat dari jumlah laki-laki..tidakkah keadaan ini suatu celah/kekurangan dalam kehidupan sosial..? Dan untk menutupinya dan untk menyeimbangkan timbangan kita harus menuruti kepada syari'at yg bijaksana ini
by. Ust Usamah
Ibroh
Jika "QOSHWA" se ekor unta putih,mati tidak makan dan minum selama tiga hari sedih di tinggal sang "KEKASIH" bagaimanakah kita..?!
by ust. usamah
by ust. usamah
Ikhlas
Kita di hadapan Alloh baik di dunia maupun akherat adalah "ABD"(hamba/budak) Nya. apakah ada/pantes seorang budak meminta balasan pada Tuannya dg apa yg dia lakukan..?!?! - imam ali al khowwash -
by. Ust Usamah
by. Ust Usamah
kalam tasyawuf
"Ma'siat yg melahirkan rasa penyesalan dan rendah hati lebih baek dari kebaikak yg menjadikan rasa sombong dan tinggi hati"
by. Ust Usamah
by. Ust Usamah
Jangan anggap remeh dosa kecil
Ulama' ahli syair mengatakan
laa tahqironna minaddzunuubi aqollahaa
innal qoliila ma'addawaami katsiiru
janganlah engkau pernah meremehkan dosa sekecil apapun itu, sesungguhnya dosa yang kecil jika dikerjakan terus menerus, maka akan menjadi besar atau banyak.
Oleh karena itu nabi bersabda
laa shogiirota ma'al ishroor, walaa kabiirota ma'al istigfaar
tidak ada dosa kecil jika dikerjakan terus menerus, sebaliknya, tidak ada dosa besar jika tiap hari selalu meminta ampun kepada ALLAH
Sementara sebab ulah manusia yang tidak mau bertaubat atas dosa-dosanya, tapi malah menjadi-jadi atau asyik dengan berbuat dosa, bangga atas maksiat kepada ALLAH, maka ALLAH akan menurunkan yang namanya musibah atau siksaan kepada mereka, sesuai dengan perkataan ulama ahli syair
bidzunubina daamat baliyyatuna # wallaahu yaksyifuhaa idza tubna
sebab dosa-dosa kita, ujian demi ujian diturunkan oleh ALLAH, tapi ALLAH akan menghilangkan ujian-ujian itu jika kita mau bertaubat padaNya.
Mudah-mudahan kita dijadikan hamba-hamba yang ahli bertaubat padaNya...... amiin... amiin... Yaa Robbal 'alamiin....
Ditulis oleh Ust. Saiful Rizal Zein
laa tahqironna minaddzunuubi aqollahaa
innal qoliila ma'addawaami katsiiru
janganlah engkau pernah meremehkan dosa sekecil apapun itu, sesungguhnya dosa yang kecil jika dikerjakan terus menerus, maka akan menjadi besar atau banyak.
Oleh karena itu nabi bersabda
laa shogiirota ma'al ishroor, walaa kabiirota ma'al istigfaar
tidak ada dosa kecil jika dikerjakan terus menerus, sebaliknya, tidak ada dosa besar jika tiap hari selalu meminta ampun kepada ALLAH
Sementara sebab ulah manusia yang tidak mau bertaubat atas dosa-dosanya, tapi malah menjadi-jadi atau asyik dengan berbuat dosa, bangga atas maksiat kepada ALLAH, maka ALLAH akan menurunkan yang namanya musibah atau siksaan kepada mereka, sesuai dengan perkataan ulama ahli syair
bidzunubina daamat baliyyatuna # wallaahu yaksyifuhaa idza tubna
sebab dosa-dosa kita, ujian demi ujian diturunkan oleh ALLAH, tapi ALLAH akan menghilangkan ujian-ujian itu jika kita mau bertaubat padaNya.
Mudah-mudahan kita dijadikan hamba-hamba yang ahli bertaubat padaNya...... amiin... amiin... Yaa Robbal 'alamiin....
Ditulis oleh Ust. Saiful Rizal Zein
Jika hawa nafsu telah mengalahkan kita
Imam Atho'illah Assakandari berkata
Tidak dikhawatirkan (ditakutkan) atas kamu, jika kamu kebingungan jalan (untuk mendekatkan diri kepada ALLAH), sesungguhnya yang paling ditakutkan (dihawatirkan) kepadamu adalah jika hawa nafsu itu mengalahkanmu"
Yang sangat dikhawatirkan pada diri manusia adalah jika hawa nafsunya telah mengalahkannya, sehingga setiap gerak dan langkahnya dikendalikan oleh hawa nafsu. Apabila sudah demikian, maka akan timbul sifat sifat tercela yang dapat menghalangi dirinya untuk mendekatkan diri kepada ALLAH. Hal ini cepat atau lambat pasti akan menjerumuskan orang tersebut ke dalam jurang kebinasaan… na’udzubillah…
Salah satu contoh dari seorang anak manusia yang hidupnya selalu memperturutkan hawa nafsu adalah Fir'aun, yang hidup pada masa Nabi Musa. Ketika itu Fir'aun beserta pengikut-pengikutnya telah begitu sewenang wenang membuat kerusakan di muka bumi dengan menindas mereka-mereka yang tidak mau tunduk kepadanya serta menyembelih anak laki-laki yang lahir di antara mereka.
Adapun balasan kepada Fir'aun beserta para pengikutnya adalah sebagaimana yang tersebut dalam Al Quran surat Al Qoshos ayat 42 yang artinya:
Dan kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini, dan pada hari qiyamat mereka termasuk orang orang yang dijauhkan (dari Rahmat ALLAH)
Dengan demikian telah jelas bagi kita, bahwa balasan bagi seseorang yang memperturutkan hawa nafsu itu tidak hanya di dunia saja, tetapi yang lebih berat lagi adalah di akhirat nanti, yakni di jauhkan dari Rahmat ALLAH.
yang berarti dimasukkan kedalam neraka.
Ya Alloh, aku berlindung kepadaMu dari hal yang demikian itu………
Ditulis oleh Ust. Saiful Rijal Zein
Tidak dikhawatirkan (ditakutkan) atas kamu, jika kamu kebingungan jalan (untuk mendekatkan diri kepada ALLAH), sesungguhnya yang paling ditakutkan (dihawatirkan) kepadamu adalah jika hawa nafsu itu mengalahkanmu"
Yang sangat dikhawatirkan pada diri manusia adalah jika hawa nafsunya telah mengalahkannya, sehingga setiap gerak dan langkahnya dikendalikan oleh hawa nafsu. Apabila sudah demikian, maka akan timbul sifat sifat tercela yang dapat menghalangi dirinya untuk mendekatkan diri kepada ALLAH. Hal ini cepat atau lambat pasti akan menjerumuskan orang tersebut ke dalam jurang kebinasaan… na’udzubillah…
Salah satu contoh dari seorang anak manusia yang hidupnya selalu memperturutkan hawa nafsu adalah Fir'aun, yang hidup pada masa Nabi Musa. Ketika itu Fir'aun beserta pengikut-pengikutnya telah begitu sewenang wenang membuat kerusakan di muka bumi dengan menindas mereka-mereka yang tidak mau tunduk kepadanya serta menyembelih anak laki-laki yang lahir di antara mereka.
Adapun balasan kepada Fir'aun beserta para pengikutnya adalah sebagaimana yang tersebut dalam Al Quran surat Al Qoshos ayat 42 yang artinya:
Dan kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini, dan pada hari qiyamat mereka termasuk orang orang yang dijauhkan (dari Rahmat ALLAH)
Dengan demikian telah jelas bagi kita, bahwa balasan bagi seseorang yang memperturutkan hawa nafsu itu tidak hanya di dunia saja, tetapi yang lebih berat lagi adalah di akhirat nanti, yakni di jauhkan dari Rahmat ALLAH.
yang berarti dimasukkan kedalam neraka.
Ya Alloh, aku berlindung kepadaMu dari hal yang demikian itu………
Ditulis oleh Ust. Saiful Rijal Zein
Hati-hati dengan sifat riya'
IMAM ATHOILLAH berkata : kesenanganmu agar orang mengetahui keistimewaanmu itu pertanda tidak adanya kesungguhan penghambaanmu kepada ALLAH;
MAKSUDNYA
Apabila di dalam hati seseorang yang mengerjakan amal kebajikan itu masih terdapat rasa senang untuk dilihat orang lain, maka hal itu adalah sebagai pertanda bahwa ia belum bersungguh-sungguh dalam menghamba kepada ALLAH.
Dalam hal ini sebagian ulama berkata:
Barang siapa merasa senang orang melihat amalnya, maka dia itu adalah orang yang riya', dan barang siapa yang merasa senang orang melihat tingkah lakunya, maka dia itu adalah pendusta".
SYEH ABUL Abbas Almursyid juga pernah mengatakan:
Barang siapa senang terkenal, maka dia menjadi hambanya terkenal, dan barang siapa yang senang tersembunyi maka dia menjadi hambanya tersembunyi, dan barang siapa menjadi hamba ALLAH, maka samalah atasnya baik terkenal atau tidak terkenal.
Ya Alloh, semoga kita selalu dijauhkan dari sifat riya' ... amiin
semoga bermanfaat..........
by: ust Saiful Rizal Zein.
MAKSUDNYA
Apabila di dalam hati seseorang yang mengerjakan amal kebajikan itu masih terdapat rasa senang untuk dilihat orang lain, maka hal itu adalah sebagai pertanda bahwa ia belum bersungguh-sungguh dalam menghamba kepada ALLAH.
Dalam hal ini sebagian ulama berkata:
Barang siapa merasa senang orang melihat amalnya, maka dia itu adalah orang yang riya', dan barang siapa yang merasa senang orang melihat tingkah lakunya, maka dia itu adalah pendusta".
SYEH ABUL Abbas Almursyid juga pernah mengatakan:
Barang siapa senang terkenal, maka dia menjadi hambanya terkenal, dan barang siapa yang senang tersembunyi maka dia menjadi hambanya tersembunyi, dan barang siapa menjadi hamba ALLAH, maka samalah atasnya baik terkenal atau tidak terkenal.
Ya Alloh, semoga kita selalu dijauhkan dari sifat riya' ... amiin
semoga bermanfaat..........
by: ust Saiful Rizal Zein.
Ilmu yang Manfaat
Di dalam kitab Ihya' Ulumuddin diterangkan
Bahwasannya ALLAH telah mewahyukan kepada Nabi Dawud AS.
ALLAH berfirman wahai Dawud, belajarlah ilmu yang bermanfaat.
Nabi Dawud bertanya, wahai Tuhanku, Apakah ilmu yang manfaat itu?
ALLAH berfirman :
Ilmu yang manfaat itu adalah engkau mengetahui
jalaali (keagunganKu),
wa adlomati (keagunganKu),
wa kibriyaai (kehebatanKu),
wa kamaala qudroti 'ala kulli syai in (sempurnanya kekuasaanKu atas segala hal)
Karena sesungguhnya ilmu inilah yang akan mengantarkan engkau dekat kepadaKu.
Subhanalloh ......
Yaa Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak membawa manfaat dan hati yg tidak khusyuk, amal yang tidak terangkat serta doa yang tidak dkabulkan.....amiin Ya Robb
by Ust Saiful Rizal Zein
Bahwasannya ALLAH telah mewahyukan kepada Nabi Dawud AS.
ALLAH berfirman wahai Dawud, belajarlah ilmu yang bermanfaat.
Nabi Dawud bertanya, wahai Tuhanku, Apakah ilmu yang manfaat itu?
ALLAH berfirman :
Ilmu yang manfaat itu adalah engkau mengetahui
jalaali (keagunganKu),
wa adlomati (keagunganKu),
wa kibriyaai (kehebatanKu),
wa kamaala qudroti 'ala kulli syai in (sempurnanya kekuasaanKu atas segala hal)
Karena sesungguhnya ilmu inilah yang akan mengantarkan engkau dekat kepadaKu.
Subhanalloh ......
Yaa Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak membawa manfaat dan hati yg tidak khusyuk, amal yang tidak terangkat serta doa yang tidak dkabulkan.....amiin Ya Robb
by Ust Saiful Rizal Zein
Langganan:
Postingan (Atom)
